Selasa, 20 Mei 2014

Suatu Hari


          Malam hari itu aku tidur begitu pulas. Namun tidur malamku itu aku mulai mungkin sekitar jam setengah 2 pagi. Karena terlalu asyik berkutat dengan tugas - tugas dan seabrek games..hehehehe. Lelah memang, tapi apa yang aku lakukan terdengar seperti orang yang tidak memiliki kerjaan. Tak lama setelah kumatikan laptop kesayangan pemberian bapakku, langsung saja aku menuju kamar yang sudah dipenuhi oleh kawan - kawan seperjuangan HMI Cabang Surabaya Komisariat Perkapalan-Sepuluh Nopember. Berdesakan aku mencari tempat yang kosong di kamar itu untuk meletakkan tubuh yang cukup gempal ini.

          Samar - samar aku mendengar kawanku, Syamsi, membangunkan aku unyuk segera melaksanakan sholat shubuh. "Bay...bay, ayo tangi, wes jam setengah 6 iki le!!"(Bay...bay, ayo bangun, sudah jam setengah 6 ini bro) ucapnya sembari menepuk - nepuk punggungku. Awalnya aku sempat bangun, dan berkata "iyo, sek..sek, diluk ngkas tak sholat" (iya, sebentar, setelah ini aku sholatnya"). Namun, apa boleh buat, setan - setan lebih menguasai diriku, dan menyuruh untuk tidur terus, sholatnya nanti saja karena tidurku itu yang terlalu larut...hehehe.

          Aku baru terbangun sepenuhnya tatkala kawanku yang lainnya masuk ke kamar dan mengobrak - abrik diriku dan membuat aku tidur tidak nyaman. Dia langsung menyuruhku untuk segeran bangun dan menemaninya mencarikan hotel untuk kekasih tercintanya pada saat tanggal 20 Juni 2014 ini. Pada saat itu kekasih tercintanya yang kuliah di UI sana berkunjung untuk menengok dan mengajak jalan - jalan kawanku itu. Hmmm, mungkin karena dia adalah kawanku yang paling dekat aku jadi mau - mau saja bangun dan menemaninya...hehehehe. Bergegas aku untuk melaksanakan ritual yang sakral bagi mahasiswa, yaitu mandi. Kubersihkan semua badanku dengan air yang mengalir deras sekali bagaikan air terjun niagara (terlalu alay ini). Selesai mandi, aku teringat kalau aku belum sholat shubuh tadi pagi. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil wudhlu dan melaksaakan sholat shubuh qodo'an. Seolah seperti bos muda, aku langsung memanggil dia dengan lantang dan menyuruhnya untuk segera cepat. "Booooobs, ayo sido pora iki? Klemar - klemer ae ket mau..."(Boooobs, ayo jadi atau tidak ini? Lelet aja dari tadi...) kataku...hehehe. Bob menimpali dengan agak kesal, "iyo..iyo, mayak banget seh kon iki" (iya...iya, songong banget sih kamu ini). Segera kami mencari hotelnya.

          Pertama hotel yang kita tuju adalah di hotel daerah Kenjeran Surabaya. Kita lihat di internet sih, harganya lumayan murah. Sekitar 190 ribu untuk kelas VIP. Dan ternyata pas kita masuk dan menanyakan ke dalam, harga segitu itu hanya untuk sewa kamar pada jam 9 malam dan check out maksimal jam 8 pagi. Dan yang 24 jam itu seharga 340 ribu. Hmmm sungguh iklan itu terkadang menyesakkan. Kita berpura - pura untuk menanyakan dulu ke orang tua kita, cocok atau tidak untuk menginap di situ. Dan kita juga bilang untuk secepatnya menghubungi pihak hotel tersebut jika cocok. Hehehe, aku balas kau. Di perjalanan keluar, "jancok lah bay, tak kiro regane temenan 190 ewu, mbujuk thok isine, dampuuut...damput" (jancok lah bay, aku kira harganya beneran 190 ribu, cuma bohong isinya), Bob memulai kekesalannya. Aku pun menimpali, "lha kan aku mau wes kondo nang kon tho bob, lek modele hotel koyok ngene yo mesti diatas 300 ewu coook." (aku kan tadi sudah bilang, ke kamu bob, kalau modelnya hotel kayak begini ya pasti diatas 300 ribu coook). "Yawes lah, golek sing liyane ae, eh lek sing nang kayoon iku piroan bay?" (Yawes lah, cari yang lainnya saja, eh kalau yang di kayoon itu berapaan bay?) tanya Bob. "Iku yo lumayan larang bob, sekitar 260 ewu ketoke", (itu ya lumayan mahal bob, sekitar 260 ribu kelihatannya), kujawab sembari mainan hapeku seperti orang autis...hehehehe. Karena pertimbangan harga yang mahal itu akhirnya kita putuskan untuk balik saja ke markas, Gebang Lor 14.

          Siang itu, aku berjalan seolah seperti manusia yang kekurangan makan sehabis mengantarkan kawanku mencari hotel untuk kekasihnya yang mau datang dari jakarta. Namun waktu itu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Aku teringat akan janjiku ketemuan sama mas Dani, senior jurusan angkatan 2011, untuk membahas sebuah acara dari prokernya BEM Fakultas. Langsung saja ku bergegas untuk berangkat menemuinya. Setelah sampai di tempat janjian, aku juga teringat bahwa hari ini jam 1 siang aku ada kuliah mekanika tanah dan sistem pondasi. Padahal baru bertemu langsung saja aku meminta ijin untuk segera masuk kuliah karena waktu itu sudah menunjukkan pukul 13.10 WIB. Dan Alhamdulillah, pak dosennya belum datang dan aku segera masuk ke kelas. Entah setan apa yang merasuki, tiba - tiba rasa kantukku muncul, padahal aku kira tidurku sudah lebih dari cukup. Ya terpaksa, sewaktu pak dosennya sudah datang dan aku mengikuti kuliahnya dengan setengah sadar juga. Tak terasa, satu setengah jam waktu kuliah yang 'mengasyikkan' itu berjalan, dan akhirnya selesai. Lega rasanya karena membayangkan banner empuk yang menjadi alas tidurku di kamar sudah menanti untuk memelukku.

          Namun, sewaktu aku berjalan keluar kelas, temanku yang satu kelompok bimbingan TR 2 (Tugas Rancang 2) mengenai Hidrostatis Bonjean, langsung memintaku untuk segera asistensi, karena sudah ditunggu sama dosen pembimbingku, pak Wisnu, The Crocodile. Oleh para mahasiswa, bapak itu mendapat julukan The Crocodile karena sebuah mahakaryanya yang meciptakan sebuah kapal selam perang yang tidak bisa terdeteksi radar yang beliau namai Crocodile. Beliau memang dosen yang kocak, jenius dan mengedepankan pemahaman daripada nilai. Langsung setelah diberi tahu temanku yang satu bimbingan, aku berjalan ke lantai 2 jurusanku, Jurusan Teknik Kelautan FTK-ITS, menuju ruangan pak Wisnu 'The Crocodile'.

          Seperti biasa, saat aku masuk ke ruangannya, pak Wisnu ini langsung menyambutku dengan tawa khasnya yang begitu 'membunuh'....hehehehe. Langsung aku ditanya, "laopo kon mrene yu? Wes siap pembantaian tah?" (ngapain kamu ke sini yu? Sudah siap pembantaian?). Mendengar itu, aku langsung bergidik dan merinding, "hehehe, insya Alloh siap pak, saya sudah belajar keras". Mendengar keyakinanku itu, pak Wisnu melanjutkan kata - katanya, "siiip, manteb lek ngono" (siiip, mantab kalo begitu). Setelah itu, seperti sewaktu asistensi TR 1 (Tugaas Rancang 1) mengenai Rencana Garis, aku berusaha mencoba menjawab apa yang ditanyakan bapaknya dengan maksimal yang aku ketahui. Ketika aku mulai kewalahan saat aku sudah masuk ke Tabel B. Di situ aku tidak bisa menjelaskan mengenai β'. Aku sama sekali lupa atau mungkin saja aku tidak tahu apa itu β'. Di saat benar - benar buntu, pak Wisnu bertanya, "lha terus maksudmu kon kok wani nulis tabel B semene akehe opo yu? Mosok sing nulis - nulis dewe gak ruh opo maksude."(lha terus maksudmu kamu kok berani nulis tabel B sebanyak ini apa yu? masak yang nulis - nulis sendiri tidak tahu apa maksudnya). Baru kali ini aku lihat bapaknya terlihat begitu marah. Kemudian aku berfikir, merenungkan semuanya. Terbesitlah satu jawaban yang membuatku mantab. "Ya kalau ditanya kenapa saya berani menulis tabel B sebanyak itu ya karena saya mempunyai excel sakti pak", jawabku lugu dan tanpa basa basi. Sontak pak Wisnu yang sebelumnya terlihat begitu marah, langsung tertawa terkekeh - kekeh dan seakan memuji kejujuranku...hehehehe. Dari situ bapaknya langsung menasehati aku, bahwasanya tak ada yang lebih baik daripada jujur. Kemudian langsung aku disuruh pulang dan belajar lagi untuk besok asistensi lagi mengahadap beliau.

          Sungguh, hari ini banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan. Tentang kedisiplinan, tentang kesetiakawanan, dan yang terpenting adalah tentang kejujuran. Mungkin dari kejadian di hari ini, aku ditunjukkan oleh Tuhan, bahwa kunci dari hidup yang bahagia dan tenang adalah ketiga hal tersebut. YAKUSA!!