Minggu, 28 September 2014

Gara - Gara (orang-orang) PARPOL


Beberapa hari terakhir ini, di media – media Indonesia entah di media sosial, media cetak, media elektronik ramai memberitakan tentang RUU Pilkada. Berita yang termuat di situ hampir semuanya menolak pengesahan RUU Pilkada menjadi UU Pilkada. Di dalam UU itu, secara ringkas, ingin membuat Pilkada tidak langsung. Berbagai penolakan datang dari segala lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan rakyat jelata, kyai, dari para Bupati, Wali Kota, Gubernur, bahkan sampai bapak SBY, Presiden kita sekarang ini. Wow, sebegitu keras kah penolakan masyarakat terhadap UU tersebut?
            UU Pilkada ini mungkin produk terakhir dari DPR periode 2009 – 2014. Prestasi yang sangat membingungkan sebenarnya. Sebelum disahkan menjadi UU, RUU Pilkada ini mendapat penolakan yang sangat keras dari masyarakat. Ada beberapa sih yang mendukung RUU Pilkada ini. Akan tetapi gelombang penolakan saya rasa lebih kuat. RUU Pilkada yang sedang jadi polemik saat itu secara ringkasnya ingin membuat Pilkada tidak langsung. Jadi kepala daerah itu akan dipilih oleh rakyat, tapi melalui “wakil – wakilnya”. Jelas banyak yang tidak setuju, ini namanya kemunduran Demokrasi. Bukan kata saya itu, kata banyak orang seperti itu kira – kira.
            Entah apa yang ada di pikiran anggota Dewan yang terhormat itu. Mengakunya adalah wakil rakyat, tapi apa yang disuarakan saya rasa tidak mewakili rakyat. Sama sekali tidak mencerminkan suara rakyat yang diwakilinya. Apa yang mereka suarakan justru merupakan suara dari partai politik dan/atau koalisinya. Para pendukung UU Pilkada itu memiliki banyak alasan yang mungkin ada benarnya, salah satunya mereka merujuk ke Pancasila sila keempat. Yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.” Lagi – lagi Pancasila ini dipakai untuk menggebuk pihak yang tidak sependapat dengan mereka. Segala keputusan itu harus dimusyawarahkan dan diwakilkan. Tidak terkecuali Pilkada. Itu kata mereka. Namun mereka lupa, di UUD 1945  pasal 6A dan pasal 22E secara jelas bahwa Pemilu yang untuk mereka dilakukan dengan cara langsung dipilh oleh rakyat. Nah, tidak sejalan ini jadinya. Sangat membingungkan bukan?
            Sedangkan dari pihak yang menolak sebenarnya mereka itu bukan menolak sistem yang demikian saya kira. Ini merupakan bentuk antipati mereka terhadap yang namanya PARPOL. Ya, semua ini karena (orang-orang) PARPOL. (orang-orang) PARPOL mengakunya adalah wakil dari rakyat, mewakili suara mereka, mengantarkan suara mereka di sana, nyatanya hanya omong kosong belaka. Partai politik hanya digunakan untuk meraih uang, meraih kekuasaan yang terstruktur, sistematis dan masif oleh para mafia berjas. Sebagus apapun rayuan, dan program yang ditawarkan partai politik, masyarakat sebenernya muak. Mereka mau memilih di Pemilu ya karena uang. Karena mereka diberi uang yang besarnya bervariasi. Dari 20 ribu rupiah hingga 100 ribu rupiah. Setidaknya itu fakta di lapangan saat saya menjadi surveyor di sebuah lembaga survey.
            Partai politik yang sejatinya merupakan kendaraan yang sah untuk maju ke panggung politik itu, sudah berubah makna menjadi hal yang menjijikkan karena perbuatan orang yang “miskin”. Kenapa disebut miskin karena mereka yang ada di partai politik merasa serba kekurangan. Kekurangan harta, wanita, dan kekuasaan. Partai politik sekarang menjadi sebuah kolonialisme baru. Orang – orang yang sebangsa dan setanah airnya hanya menjadi jajahan. Ironis, sungguh ironis. Tapi saya masih yakin, masih ada orang – orang di partai politik yang memang berhati malaikat dan tulus dalam menjalankan tanggung jawabnya karena Tuhan. Namun, masih saja hal itu masih sia – sia.

            Hal itulah sebenarnya yang menjadikan reaksi penolakan yang begitu keras di masyarakat tentang UU Pilkada. Mereka tidak ingin suara mereka dirampas oleh orang – orang dari partai politik yang bukan hanya suara rakyat, tapi semua yang ada di rakyat mereka rampas, apapun itu. Saya pun sebenarnya tidak ada masalah dengan UU Pilkada itu. Yang bermasalah ya para pembuat UU tersebut. Kalau mereka mau untuk dihargai, ya jadilah yang benar. Benar menurut konstitusi dan menurut agama mereka masing – masing. Jangan sampai DPR dan DPRD dibubarkan oleh rakyat. Karena suara rakyat itu suara Tuhan, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Termasuk membubarkan DPR dan DPRD.

Selasa, 20 Mei 2014

Suatu Hari


          Malam hari itu aku tidur begitu pulas. Namun tidur malamku itu aku mulai mungkin sekitar jam setengah 2 pagi. Karena terlalu asyik berkutat dengan tugas - tugas dan seabrek games..hehehehe. Lelah memang, tapi apa yang aku lakukan terdengar seperti orang yang tidak memiliki kerjaan. Tak lama setelah kumatikan laptop kesayangan pemberian bapakku, langsung saja aku menuju kamar yang sudah dipenuhi oleh kawan - kawan seperjuangan HMI Cabang Surabaya Komisariat Perkapalan-Sepuluh Nopember. Berdesakan aku mencari tempat yang kosong di kamar itu untuk meletakkan tubuh yang cukup gempal ini.

          Samar - samar aku mendengar kawanku, Syamsi, membangunkan aku unyuk segera melaksanakan sholat shubuh. "Bay...bay, ayo tangi, wes jam setengah 6 iki le!!"(Bay...bay, ayo bangun, sudah jam setengah 6 ini bro) ucapnya sembari menepuk - nepuk punggungku. Awalnya aku sempat bangun, dan berkata "iyo, sek..sek, diluk ngkas tak sholat" (iya, sebentar, setelah ini aku sholatnya"). Namun, apa boleh buat, setan - setan lebih menguasai diriku, dan menyuruh untuk tidur terus, sholatnya nanti saja karena tidurku itu yang terlalu larut...hehehe.

          Aku baru terbangun sepenuhnya tatkala kawanku yang lainnya masuk ke kamar dan mengobrak - abrik diriku dan membuat aku tidur tidak nyaman. Dia langsung menyuruhku untuk segeran bangun dan menemaninya mencarikan hotel untuk kekasih tercintanya pada saat tanggal 20 Juni 2014 ini. Pada saat itu kekasih tercintanya yang kuliah di UI sana berkunjung untuk menengok dan mengajak jalan - jalan kawanku itu. Hmmm, mungkin karena dia adalah kawanku yang paling dekat aku jadi mau - mau saja bangun dan menemaninya...hehehehe. Bergegas aku untuk melaksanakan ritual yang sakral bagi mahasiswa, yaitu mandi. Kubersihkan semua badanku dengan air yang mengalir deras sekali bagaikan air terjun niagara (terlalu alay ini). Selesai mandi, aku teringat kalau aku belum sholat shubuh tadi pagi. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil wudhlu dan melaksaakan sholat shubuh qodo'an. Seolah seperti bos muda, aku langsung memanggil dia dengan lantang dan menyuruhnya untuk segera cepat. "Booooobs, ayo sido pora iki? Klemar - klemer ae ket mau..."(Boooobs, ayo jadi atau tidak ini? Lelet aja dari tadi...) kataku...hehehe. Bob menimpali dengan agak kesal, "iyo..iyo, mayak banget seh kon iki" (iya...iya, songong banget sih kamu ini). Segera kami mencari hotelnya.

          Pertama hotel yang kita tuju adalah di hotel daerah Kenjeran Surabaya. Kita lihat di internet sih, harganya lumayan murah. Sekitar 190 ribu untuk kelas VIP. Dan ternyata pas kita masuk dan menanyakan ke dalam, harga segitu itu hanya untuk sewa kamar pada jam 9 malam dan check out maksimal jam 8 pagi. Dan yang 24 jam itu seharga 340 ribu. Hmmm sungguh iklan itu terkadang menyesakkan. Kita berpura - pura untuk menanyakan dulu ke orang tua kita, cocok atau tidak untuk menginap di situ. Dan kita juga bilang untuk secepatnya menghubungi pihak hotel tersebut jika cocok. Hehehe, aku balas kau. Di perjalanan keluar, "jancok lah bay, tak kiro regane temenan 190 ewu, mbujuk thok isine, dampuuut...damput" (jancok lah bay, aku kira harganya beneran 190 ribu, cuma bohong isinya), Bob memulai kekesalannya. Aku pun menimpali, "lha kan aku mau wes kondo nang kon tho bob, lek modele hotel koyok ngene yo mesti diatas 300 ewu coook." (aku kan tadi sudah bilang, ke kamu bob, kalau modelnya hotel kayak begini ya pasti diatas 300 ribu coook). "Yawes lah, golek sing liyane ae, eh lek sing nang kayoon iku piroan bay?" (Yawes lah, cari yang lainnya saja, eh kalau yang di kayoon itu berapaan bay?) tanya Bob. "Iku yo lumayan larang bob, sekitar 260 ewu ketoke", (itu ya lumayan mahal bob, sekitar 260 ribu kelihatannya), kujawab sembari mainan hapeku seperti orang autis...hehehehe. Karena pertimbangan harga yang mahal itu akhirnya kita putuskan untuk balik saja ke markas, Gebang Lor 14.

          Siang itu, aku berjalan seolah seperti manusia yang kekurangan makan sehabis mengantarkan kawanku mencari hotel untuk kekasihnya yang mau datang dari jakarta. Namun waktu itu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Aku teringat akan janjiku ketemuan sama mas Dani, senior jurusan angkatan 2011, untuk membahas sebuah acara dari prokernya BEM Fakultas. Langsung saja ku bergegas untuk berangkat menemuinya. Setelah sampai di tempat janjian, aku juga teringat bahwa hari ini jam 1 siang aku ada kuliah mekanika tanah dan sistem pondasi. Padahal baru bertemu langsung saja aku meminta ijin untuk segera masuk kuliah karena waktu itu sudah menunjukkan pukul 13.10 WIB. Dan Alhamdulillah, pak dosennya belum datang dan aku segera masuk ke kelas. Entah setan apa yang merasuki, tiba - tiba rasa kantukku muncul, padahal aku kira tidurku sudah lebih dari cukup. Ya terpaksa, sewaktu pak dosennya sudah datang dan aku mengikuti kuliahnya dengan setengah sadar juga. Tak terasa, satu setengah jam waktu kuliah yang 'mengasyikkan' itu berjalan, dan akhirnya selesai. Lega rasanya karena membayangkan banner empuk yang menjadi alas tidurku di kamar sudah menanti untuk memelukku.

          Namun, sewaktu aku berjalan keluar kelas, temanku yang satu kelompok bimbingan TR 2 (Tugas Rancang 2) mengenai Hidrostatis Bonjean, langsung memintaku untuk segera asistensi, karena sudah ditunggu sama dosen pembimbingku, pak Wisnu, The Crocodile. Oleh para mahasiswa, bapak itu mendapat julukan The Crocodile karena sebuah mahakaryanya yang meciptakan sebuah kapal selam perang yang tidak bisa terdeteksi radar yang beliau namai Crocodile. Beliau memang dosen yang kocak, jenius dan mengedepankan pemahaman daripada nilai. Langsung setelah diberi tahu temanku yang satu bimbingan, aku berjalan ke lantai 2 jurusanku, Jurusan Teknik Kelautan FTK-ITS, menuju ruangan pak Wisnu 'The Crocodile'.

          Seperti biasa, saat aku masuk ke ruangannya, pak Wisnu ini langsung menyambutku dengan tawa khasnya yang begitu 'membunuh'....hehehehe. Langsung aku ditanya, "laopo kon mrene yu? Wes siap pembantaian tah?" (ngapain kamu ke sini yu? Sudah siap pembantaian?). Mendengar itu, aku langsung bergidik dan merinding, "hehehe, insya Alloh siap pak, saya sudah belajar keras". Mendengar keyakinanku itu, pak Wisnu melanjutkan kata - katanya, "siiip, manteb lek ngono" (siiip, mantab kalo begitu). Setelah itu, seperti sewaktu asistensi TR 1 (Tugaas Rancang 1) mengenai Rencana Garis, aku berusaha mencoba menjawab apa yang ditanyakan bapaknya dengan maksimal yang aku ketahui. Ketika aku mulai kewalahan saat aku sudah masuk ke Tabel B. Di situ aku tidak bisa menjelaskan mengenai β'. Aku sama sekali lupa atau mungkin saja aku tidak tahu apa itu β'. Di saat benar - benar buntu, pak Wisnu bertanya, "lha terus maksudmu kon kok wani nulis tabel B semene akehe opo yu? Mosok sing nulis - nulis dewe gak ruh opo maksude."(lha terus maksudmu kamu kok berani nulis tabel B sebanyak ini apa yu? masak yang nulis - nulis sendiri tidak tahu apa maksudnya). Baru kali ini aku lihat bapaknya terlihat begitu marah. Kemudian aku berfikir, merenungkan semuanya. Terbesitlah satu jawaban yang membuatku mantab. "Ya kalau ditanya kenapa saya berani menulis tabel B sebanyak itu ya karena saya mempunyai excel sakti pak", jawabku lugu dan tanpa basa basi. Sontak pak Wisnu yang sebelumnya terlihat begitu marah, langsung tertawa terkekeh - kekeh dan seakan memuji kejujuranku...hehehehe. Dari situ bapaknya langsung menasehati aku, bahwasanya tak ada yang lebih baik daripada jujur. Kemudian langsung aku disuruh pulang dan belajar lagi untuk besok asistensi lagi mengahadap beliau.

          Sungguh, hari ini banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan. Tentang kedisiplinan, tentang kesetiakawanan, dan yang terpenting adalah tentang kejujuran. Mungkin dari kejadian di hari ini, aku ditunjukkan oleh Tuhan, bahwa kunci dari hidup yang bahagia dan tenang adalah ketiga hal tersebut. YAKUSA!!

Jumat, 25 April 2014

Sebuah Tamparan kepada Generasi Muda Rembang







Malam itu, saya sangat kaget dengan berita ditangkapnya Bupati Rembang, Bupati di tanah kelahiranku. Memang gonjang – ganjing akan ditangkapnya Bupati Rembang sudah gencar terdengar jauh – jauh hari. Ramai di facebook, teman – teman saya yang juga kuliah di luar Rembang mensyukuri hal itu. Meluapkan kegembiraan yang seakan – akan merupakan sebuah kemenangan besar. Mereka beranggapan sudah sepantasnya Bupati itu ditangkap, karena katanya sih melakukan korupsi.
Suatu ketika saya juga iseng “berselancar” di jejaring sosial masuk di grup SMA yang pernah saya sekolah di sana. Di situ sedang membahas pro kontra pembangunan pelabuhan umum dan pabrik semen. Sungguh saya melihat, kapabilitas teman – teman dan senior saya dalam mengungkapkan pendapatnya yang rata - rata kontra, sangat bagus. Bahkan saya pun pasti kalah kalau adu pendapat dengan mereka. Idealisme yang mereka tunjukkan begitu kuat. Saya sangat salut dengan mereka.
Saya kagum sekali dengan mereka. Namun sayang seribu sayang. Pendapat kontra mereka terhadap pembangunan yang digencarkan untuk memajukan kotaku tercinta, Rembang, tidak ada saran yang membangun. Hampir semuanya berisi kritikan, ketidak sukaan, dan yang membuat saya (maaf) jijik, tatkala mereka mendengung – dengungkan isu lingkungan, dan membawa – bawa kata kesejahteraan rakyat & Rembang. Saya sangat menyangsikan apakah mereka selepas lulus kuliah akan kembali ke Rembang untuk mengabdikan dirinya di kampung halamannya. Mungkin mereka akan pergi ke tempat lain untuk mencari penghidupan mereka sendiri yang lebih layak. Itu tidak salah sebenarnya, tapi yang menjadi permasalahan adalah ketika ada program pembangunan untuk memajukan daerahnya mereka menolak, akan tetapi mereka malah membangun daerah milik orang lain menjadi lebih maju. Atau bahkan yang lebih ekstrim lagi mereka menjadi agen kapitalis dengan bekerja di perusahaan asing yang jelas – jelas mengeruk asset milik bangsa kita tercinta. Dan parahnya mereka mungkin akan sangat bangga dengan pencapaian yang mereka raih.
Sejujurnya saya setuju – setuju saja dengan adanya pembangunan pelabuhan umum dan perusahaan semen. Pertama, untuk pembangunan pelabuhan. Sebuah pelabuhan mutlak dibutuhkan untuk sebuah daerah pesisir. Sejarah selalu mencatat bahwa kota yang maju dan besar adalah kota yang memiliki pelabuhan. Kita lihat di Liverpool. Kota itu selain terkenal akan klub sepak bolanya, juga terkenal dengan kota pelabuhan. Kota tersebut sangat maju di jamannya, bahkan sampai saat ini. Aktivitas perdagangan di sana sangat tinggi. Tentu saja akan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dan yang terpenting dari itu, pelabuhan dengan aktivitas perekonomian yang sangat tinggi akan mengubah budaya konsumtif menjadi budaya produktif masyarakatnya.
Jikalau ada sanggahan bahwa kita bukan Inggris, tapi kita Indonesia. Justru karena ini Indonesia kita butuh pelabuhan bung. Kita Indonesia, kita punya lautan yang menghubungkan pulau – pulau di seluruh penjuru tanah air. Adanya alasan yang menyangkut pautkan tentang lingkungan itu sebenarnya kurang tepat. Dalam setiap pembangunan sesuatu, pastinya sudah ada AMDAL sebagai syarat layak atau tidaknya proyek tersebut dijalankan. Ini waktunya kita untuk berbenah. Membenahi kota kita tercinta. Dengan adanya pelabuhan umum juga, tenaga – tenaga ahli pasti akan dibutuhkan. Dan itu kesempatan emas yang jangan sampai disia – siakan. Generasi muda dari Rembang tentunya akan sangat diutamakan untuk mengelola karena memang itu daerah mereka sendiri.
Namun yang menjadi ketakutan saya adalah saat mereka yang sangat “manis” pendapatnya, saat mereka lulus kuliah kemudian mengabdi kepada yang lain demi mencukupi kebutuhan hidupnya, Rembang yang notabene adalah kampung halamannya, ditinggalkan dan dikelola oleh orang lain yang belum tentu pintar. Dan yang terjadi adalah kesemrawutan, karena “medan” tidak dikuasai oleh pengelola dari daerah lain tersebut. Peluang emas ini sekali lagi, jangan sampai disia – siakan oleh kita, generasi muda Rembang.
Dan yang kedua adalah pembangunan pabrik semen. Hal ini hampir sama dengan yang tadi. Bahwa dari perusahaan semen tersebut, para warga Rembang yang tidak memiliki pengahasilan tetap dapat bekerja di sana. Peningkatan taraf hidup pun terjadi. Harusnya mereka jangan langsung menolak mentah – mentah program pembangunan itu. Namun, memberikan tawaran – tawaran sebagai persyaratan pembangunan pabrik semen itu. Dua hal penting yang jadi persyaratan adalah petinggi – petinggi dari jajaran Direksi semuanya harus orang Rembang atau minimal sebagian besar jajaran Direksi harus orang Rembang. Dan juga Pemerintah Kabupaten Rembang harus yang memiliki minimal 20% saham kepemilikan. Toh perusahaan semen itu juga merupakan BUMN yang harusnya lebih kooperatif dalam menanggapi persyaratan itu.
Saya sungguh menyayangkan sikap dari teman – teman yang langsung menolak mentah – mentah program pembangunan dua proyek besar itu. Yang lebih (maaf) jijik lagi, mereka menolak tanpa ada solusi yang konkret untuk kemajuan Rembang juga mereka setelah lulus belum tentu mau untuk mengabdikan dirinya di kota Rembang tercinta sehingga Rembang selalu saja menjadi kota tertinggal. Saya punya kepercayaan yang sangat tinggi bahwa orang – orang Rembang itu semua sangat pintar dan cerdas. Bukan ingin membuat sebuah konflik baru, tapi saya berharap tulisan saya ini menjadi renungan dan tamparan bagi teman – teman semua. Kalo mereka berani menolak dua program tadi, harus ada solusi dari mereka yang lebih baik dan tentunya mereka harus mau kembali ke Rembang sebagai kampung halamannya untuk mengabdikan diri dan memajukannya. Jika hal itu sudah disadari tentunya tidak akan ada dari orang Rembang yang hanya bisa mengeluh, menyalahkan pemerintah, menggerutui kebijakan – kebijakan yang diterapkan, tapi lebih memberikan bukti nyata untuk pembangunan daerahnya.
Tentunya hal ini bukan hanya untuk teman – teman saya, tetapi untuk seluruh generasi muda bangsa Indonesia. Kalau mereka mau mengembangkan dan mengabdikan dirinya untuk kotanya, maka Indonesia akan maju, benar - benar maju. Semoga hal ini juga dapat membuka mata para pengambil kebijakan bahwa orang – orang kita, orang – orang Indonesia juga bisa. Supaya orang – orang Indonesia yang benar – benar berkompeten dan ahli di bidang apapun tidak diambil oleh asing dan mengabdi kepada mereka, tetapi mengabdi kepada negerinya, tanah tumpah darahnya. Ayo, mengabdi ke Rembang, mengabdi ke Indonesia. Rembang Bangkit!!!

Selasa, 18 Maret 2014

Laut Indonesia dan Potensi Energinya


Indonesia. Satu kata tersebut terdengar tak asing bagi telinga kita. Ya benar, Indonesia. Indonesia adalah negeri kita tercinta. Negeri yang dimana – mana selalu ada, apapun itu. Minyak bumi, batu bara, gas, emas, tembaga, suku bangsa yang beribu macamnya, bahasa daerah yang ratusan ribu jumlahnya, tak terkecuali lautnya. Lautnya ini juga tak kalah banyak kandungannya daripada daratannya.
Energi. Energi pun tak kalah terkenalnya dengan nama negara kita, yaitu Indonesia. Ada dua macam energi selama ini, yaitu energi tak-terbarukan dan tentunya energi yang terbarukan. Seluruh kegiatan manusia selalu membutuhkan energi, terkhusunya di masyarakat secara umum energi yang sering dipakai adalah energi yang tak-terbarukan. Mobil menghabiskan bensin, motor pun tak kalah juga dengan mobil dalam porsi penghabisan bensin ini. Pembangkit listrik di Indonesia yang masih banyak menggunakan batu bara dalam proses penggerakan generatornya melalui uap yang ditimbulkan dari hasil pembakaran batu bara tersebut. Semua kegiatan manusia masih menggunakan energi yang tak-terbarukan tersebut.
Mungkin ada beberapa orang – orang yang kreatif di negara kita ini yang tak turut andil menjadi “budak energi”. Mereka banyak yang sudah membuat pembangkit listrik dengan menggunakan tenaga angin, tenaga cahaya matahari, dan bahkan ada yag menggunakan biogas. Namun karena sebagian membutuhkan biaya yang tidak cukup sedikit, energi yang terbarukan tersebut masih dinikmati oleh orang – orang berduit saja.
Yang lebih disayangkan lagi adalah, industri dari energi tak-terbarukan ini begitu “seksi” sehingga menyilaukan semua orang. Begitu juga dengan Pemerintah Indonesia sendiri. Pemerintah begitu terpukau dengan industri tersebut. Namun lagi – lagi, yang juga sangat – sangat disayangkan. Hampir semua industri yang bergerak di bidang tersebut semuanya dikuasai oleh “orang lain”. Padahal jelas tertulis dalam UUD 1945 yang notabene menjadi konstitusi dasar bagi negara Indonesia bahwa bumi, air dan seisinya dikuasai oleh negara. Mungkin berbeda penafsiran, antara saya dengan “oknum” pemerintah Indonesia. Mereka menganggap bahwa memang benar bumi, air dan seisinya dikuasai oleh negara, jadi ya bebas, “negara” mau berbuat apa ya terserah “negara”, lha wong memang dia yang menguasai. Semoga Tuhan membukakan mata hati mereka dan memberikan hidayah yang seluas – luasnya. Aamiin.
Kembali di topic bahasan awal. Indonesia, negara kita yang paling kita cintai, katanya sih negara maritime, negara dengan luas laut yang begitu besar. Akan tetapi, dalam prakteknya hampir nol pemanfaatannya, penjagaannya, dan perlindungannya. Krisis energi yang sedang digembar – gemborkan oleh “orang – orang pinter” di sana akan benar – benar terjadi, mengingat selama ini energi tak-terbarukan yang dipakai akan segera habis.
Laut yang memang diberikan oleh Tuhan kepada kita bukan sekedar pelengkap wilayah negara kita. Namun lebih jauh lagi, Dia menginginkan kita sebagai negara yang paling beruntung karena memiliki luas wilayah laut terluas untuk dimafaatkan seluas – luasnya bagi kesejahteraan masyarakatnya.
Banyak yang bisa kita dapatkan dari laut, yang paling gampang dan paling sering kita manfaatkan adalah ikan dan garam. Namun laut bukan cuma ikan dan garam. Sesungguhnya masih banyak sekali yang bisa kita dapatkan dari laut.
Wilayah laut Indonesia memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan, salah satunya sebagai sumber energi listrik. Meski sejumlah penelitian mengenai pemanfaatan potensi laut untuk kebutuhan energi sudah lama dilakukan, namun hal itu sama sekali belum mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia untuk dikembangkan.
Hal itu dapat dibuktikan dengan tidak adanya Blue Print mengenai pengelolaan dan pemanfaatan energi laut. Pemerintah sampai dengan tahun 2010 tidak mengakomodasi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya energi laut. (Mukhtasor;merdeka.com).
Hal tersebut sungguh sangat miris mengingat negara kita tercinta ini memiliki wilayah hampir seluruhnya merupakan wilayah laut. Mungkin kalau laut kita mulai diusik oleh “tetangga yang bising”, baru kita semua, pemerintah khususnya, gembar – gembor. Itupun selesai gangguan bakalan ditinggal dan tidak diurusi kembali. Sungguh miris negeriku.
Meskipun demikian ada beberapa pihak yang memang peduli terhadap lautan kita terus melakukan desakan, penelitian, dan lokakarya pemanfaatan energi laut untuk sumber daya energi negeri kita.
Menurut Prof. Mukhtasor, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dan Ketua Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI), Pijakan pengembangan energi laut sebenarnya telah tersedia dalam UU No. 30/2007 tentang Energi maupun UU No. 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Namun kenyataanya, peta jalan pengembangan energi laut dan  Rencana Umum Kelistrikan Nasional belum mengakomodasi pemanfaatan energi laut. Keadaan ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya belum tersedianya informasi potensi energi laut yang secara ekonomis  dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik.
Bahkan para ahli terkait mengidentifikasi secara teoritis, total sumberdaya energi laut nasional sangat melimpah yaitu mencapai 727.000 MW. Energi yang begitu besar itu terdiri dari energi dari jenis panas laut, gelombang laut dan arus laut. Namun demikian, potensi energi laut yang dapat dimanfaatkan dengan menggunakan teknologi sekarang dan secara praktis memungkinkan untuk dikembangkan, berkisar antara 49.000 MW. Diantara potensi sedemikian besar tersebut, industri energi laut yang paling siap adalah industri berbasis teknologi gelombang dan teknologi arus pasang surut, dengan potensi praktis sebesar 6.000 MW. (esdm.go.id)
Hasil fantastis tersebut dihasilkan dari perhitungan yang hati – hati dari survey lapangan yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL). Mungkin kalau ditinjau dari survey berdasarkan potensi dan yang bisa dihasilkan dalam waktu dekat sangat sedikit, yaitu berkisar 6.000 MW. Namun lebih dari itu, kabar baik ini menjadi titik terang dari kedaulatan laut kita dan tentunya akan ada hari yang cerah untuk energi masa depan kita. Dengan begitu tak akan ada lagi yang meremehkan dan menganggap laut Indonesia yang notabene jadi khasnya negara kita, sebagai tempat pembuangan.
Dan yang menjadi kabar gembira adalah untuk pertama kalinya di Indonesia, Peta Potensi Energi Laut Nasional yang telah ditandatangani oleh Menteri ESDM Jero Wacik, diresmikan penggunaannya oleh Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo, di Graha Sepuluh Nopember, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya, Jum’at, 7 Maret 2014. Peresmian peta potensi energi laut tersebut bertepatan dengan Kuliah Umum Energi Laut oleh Wamen ESDM di kampus ITS, sekaligus penandatanganan kerjasama antara Badan Litbang ESDM dan ITS, serta persiapan pelaksanaan pilot percontohan energi laut di Indonesia, yang merupakan amanat dari Kebijakan Energi Nasional yang diusulkan Dewan Energi Nasional dan telah disetujui oleh DPR.(den.go.id)
Dalam kuliah umumnya, Wamen Susilo optimis bahwa dengan diresmikannya peta potensi ini, Indonesia memiliki satu basis data yang sama secara nasional sebagai pedoman pengembangan energi laut sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Energi, nomor 30/2007. Klasifikasi potensi energi laut dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu potensi teoritis, potensi teknis dan potensi praktis. Pemetaan potensi energi laut tersebut dilaksanakan oleh Badan Litbang ESDM bekerjasama dengan ASELI (Asosiasi Energi Laut Indonesia) dan berbagai kementerian/lembaga dan perguruan tinggi, yaitu Puslitbang Geologi Kelautan (PPPGL), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).(den.go.id)
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), yang sekaligus sebagai Ketua ASELI dan Guru Besar ITS, Prof. Dr. Mukhtasor menjelaskan bahwa peta potensi energi laut yang diresmikan oleh Pemerintah pada 2014 ini adalah hasil pemutakhiran data dari eksplorasi energi laut yang sebelumnya telah diratifikasi oleh ASELI pada tahun 2011. “Selama tiga tahun terakhir, kegiatan nasional eksplorasi sumber energi laut dari jenis arus laut, gelombang laut dan panas laut sangat intensif dilakukan oleh Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan,  BPPT dan Perguruan Tinggi. Dan secara nasional, kita mendapatkan peningkatan sekitar 24%, dimana potensi praktis energi laut pada tahun 2011 yang lalu sebesar 49.000 MW meningkat menjadi lebih dari 60.000 MW pada tahun 2014”, Mukhtasor menjelaskan. (den.go.id)
Pengembangan energi laut sudah menjadi keniscayaan, mengingat besarnya potensi energi yang terkandung dalam laut Indonesia. Dengan telah disetujuinya Kebijakan Energi Nasional yang baru, energi laut telah mendapatkan tempat strategis dalam peta energi Indonesia, untuk dikembangkan sejajar dengan jenis energi yang lain.
Layaknya pengembangan energi yang lain, pengembangan energi laut tidak bisa hanya tergantung pada besar potensi yang terkandung, maupun teknologi yang tersedia. Pengembangan energi laut juga harus memberi perhatian pada peningkatan kapasitas (SDM) dalam hal penguasaan dan pemanfaatan energi laut.
Hal tersebut dijawab dengan adanya kerjasama dari perguruan tinggi di Indonesia yaitu ITS, yang katanya perguruan tinggi yang meng-khususkan ke bidang kelautan, bekerja sama dengan perguruan tinggi yang berada di Inggris yaitu RGU untuk membuka program pasca sarjana bidang Teknik dan Managemen Energi Laut. Tentunya ini akan memberikan harapan yang begitu besar bahwasanya kedaulatan energi dan laut benar – benar akan terwujud. Mulai dari pemanfaatannya dari apa yang kita punya, tentunya tidak akan habis dan yang terpenting semua itu bakalan dikuasai oleh orang – orang kita, orang dari bangsa kita tercinta.
Namanya hal yang baru (sebenarnya sudah lama, tapi kita saja yang belum bisa memanfaatkannya), sebagian orang ragu akan potensi itu oleh karena menganggap bahwa tantangan kesulitan dilaut belum mampu dikelola dengan kemajuan teknologi yang ada. Namun keraguan beberapa pihak tersebut dibantah oleh Dr. Ir. Erwandi, Kepala Balai Pengkajian dan Penelitian Hidrodinamika- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPH-BPPT). Menurut beliau, teknologi energi laut di dunia Internasional telah berkembang pesat. BPPT telah mulai melakukan pengkajian jenis-jenis teknologi ini untuk kemungkinan diterapkan di Indonesia. BPPT dan perguruan tinggi seperti ITS dan ITB juga telah mengembangan jenis teknologi energi laut dalam negeri untuk mengembangkan kemampuan nasional dibidang industri energi laut. pihaknya optimis bahwa potensi energi laut yang telah diidentifikasi dan diratifikasi oleh para ahli ini dapat menjadi pegangan pemerintah dan dunia usaha untuk mempercepat realisasi pemanfaatan energi laut di Indonesia. (esdm.go.id)
Satu lagi yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memang mendapatkan anugrah Tuhan yang begitu luar bisaa banyaknya. Apa yang dilakukan oleh beberapa pihak tersebut menjadi sia – sia jikalau dari pihak bangsa sendiri tidak bisa menggunakannya secara bijak dan tentunya tidak mendapatkan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia sendiri.